Meningkatkan derajat kesehatan pada masyarakat, tentu saja tidaka mudah. Banyak aspek yang harus di perhatikan. Masalah kesehatan tidak saja persoalan medis, tapi juga terkait dengan aspek lainnya, seperti lingkungan, perilaku, pendidikan, dsb.
sampai saat ini, masih banyak di temukan berbagai persoalan kesehatan di masyarakat. tingginya angka kematian ibu. merupakan salah satu indikator termuda yang paling sering di gunakan untuk mengukur derajat kesehatan di indonesia.
pada 2015, angka kematian ibu di indonesia mencapai 126 per 100.000 kelahiran. sementara di jepang, jerman dan inggris memeiliki kematian ibu yang berkisar 6-7 kematian per 100.000 kelahiran. bahkan WHO menyebutkan rata rata negara maju memiliki angka kematian ibu hanya 12-14 kematian per 100.000 kelahiran.
dalam hal menekan angka kematianibu, Indonesia juga masih tertinggal dari Malaysia, Singapura, Braxil, Argentina, dan banyak negara Amerika Latin, yang secara ekonomi mirip atau malah beraada di bawah Indonesia, jangan heran kalau Indonesia tercatat sebagai negara dengan kematian ibu tertinggi di asia tenggara.
WHO mencatat, bnayaknya kematian ibu melahirkan di indonesia akibat dari pendidikan warga yang kurang tinggi . kebanyakan masyarakat Indonesia masih memegang budaya daerahnya masing masing dan salah satunya adalah budahaya melahirkan di dukun melahirkan.
Proses melahirkan yang seharusnya di lakukan oleh tenaga kesehatan terlatih dan di dalam suasana yang steril, justru banyak di lakukan oleh dukun. Akibatnya komplikasi melahirkan serta infeksi menjadi penyebab kematian ibu melahirkan.
Beberapa penyakit yang menyebabkan ibu melahirkan meninggal, di antaranya perdarahan yang parah, eklampsia (kejang pada ibu hamil), infeksi, serta banyaknya aborsi yang tidak aman. Pada dasarnya hal ini semua berakar kepada kelahiran yang tidak di lakukan oleh tenaga terampil.
Who juga perna mendokumentasikan secara statistik masyarakat tetep memilih dukun di bandingkan dokter atau bidan. kedatangan tenaga kesehatan ahli ke dusun dusun terperncil di indonesia bahkan tidak di anggap ancaman para dukun setempat.
Belum tuntas menekan angak kematian ibu, Indonesia masih dililit persoalan gizi buruk, Mengutip data kementerian kesehatan, Bayi usia di bawah lima tahun (balita) yang mengalami masalah gizi pada tahun 2016 mencapai 17,8 persen. sedangkan status gizi berdasarkan indeks tinggi badan terhadap usia balita indonesia yang mengalami stunting mencapai 26,6 persen.
Indeks berat badan terhadap usia sebanyak 9.8 persen. kondisi ini menyebabkan terjadi stunting (memiliki ukuran tubuh sangat kecil) di bandingkan dengan anak anak seusianya. Anak stunting akan sangat mudah terserang penyakit menunal, seperti infeksi saluran pernapasan, infeksi saluran cerna, hingga infeksi otak yang mematikan. sementara dalam jangka yang panjang, anak stunting yang tumbuh dewasa, akan sangat tidak produktif.
Berkurangnya produktivitas seseorang, merupakan salah satu faktor risiko tertinggi untuk terjadi penyakit-penyakit tidak menular. karena itu orang orang yang mengalami stunting terancam dua jenis penyakit berbahaya, penyakit menular dan penyakit tidak menular.
stunting jauh lebih berbahaya dari gagal tumbuh atau tinggi badan yang pendek. seringkali tinggi badan yang di bawah rata rata di pengaruhi berbagai faktor, termasuk genetik. sementara stuntingbukan hanya badan yang di pertaruhkan. Anak anak perkembangan otak. Artinya konsekuensi yang diemban anatlah tinggi.
Tingginya kasus stunting di perburuk dengan masih rendahnya kepedulian masyarakat trhadap permasalahan ini. Hal ini tentu akan berakibat kepada semakin tingginya permasalah gizi buruk.
World Bank mnyebut, risiko stunting dapat berakibat meningkatkan angka harapan hidup di indonesia, yang bearti secara statistik akan meningkatkan jumlah orang orang yang mengalami penyakit tidak menular.
selain itu, perekonomian indonesia yang semakin baik tidak diimbangi oleh ketahanan pangan yang baik. Akibatnya nutisi yang di makan rata rata anak indonesia tidaklah seimbang.
World Bank mencatat, rata rata anak indonesia banyak memasukkan lemak sebagai salah satu asupan utamanya. padahal tingginya lemak menjadi salah satu faktor risikodari penyakit tidak menular di hari tua. Alasan ketiga, kebanyakan kota diindonesia tidak rama terhadap pejalan kaki. ini berimplikasi kepada rendahnay minat orang orang indonesia terhadap aktivitas fisik.
Kesadaran
Tingginya angka kesakitan di indonesia tentu saja tidak dapat di biarkan. Beban negara untuk membiayai kesakitan yang terjadi pada masyarakat terus membengkak. Akibat banyaknya angka kesakitan di indonesia, BPJS yang diamnatkan untuk membiayai pengonbatan mengalami devisit. Biaya masyarakat berobat jauh lebih besar dari pendapatan yang di peroleh dari iuran peserta.
Untuk mengatasi masalah kesakitan ini, tidak cukup dengan membiayai perobatan. perlu dilakukan langkah preventif dengan memberikan kesadaran kepada masyarakat penting menjaga kesehatan.
Tidak dapat di pungkiri, kesadaran masyarakt menjaga kesehatan masih sangat rendah. perilaku bersih, mengonsumsi makan sehat dan bergizi, dan berolahraga masih belum menjadi gaya hidup masyarakat. padahal dengan menjaga kesehatan dan kontrol kesehatan secara rutin dapat mengurangi berbagai dampak penyakit.
Dengan mengetahui penyakit lebih awal, besar kemungkinan untuk disembuhkan kenyataanya penanganan penyakit baru di lakukan setealh terjadi komplikasi, sehinga sulit di sembuhkan dan membutuhkan biaya mahal.


0 Komentar